Menikmati Sensasi Mie Aceh

Pecinta mie mana suaranyaaaaaa..

Dulu, saat saya baru-baru pindah ke Bengkulu, rasa rindu terhadap makanan yang berseliweran di Sumatera Utara amat mencekam. Mulai dari merindukan putu bambu, mie lidi hingga mie aceh. Untung saat itu saya belum ngidam. Kalo tidak, bisa berabe semuanya.

Sebut saja putu bambu. Genap setahun tinggal di Bengkulu baru nemu tuh cemilan. Menyusul mie aceh. Kalau mie lidi masih bisa saya masak di rumah karena stoknya banyak sekali saya bawa dari kampung waktu nikahan. Belum lagi keluarga datang berkunjung, saya selalu nitip mie lidi. Tapi mie aceh, mau saya dapat di mana?

Hingga akhirnya suatu ketika tak sengaja saya melihat tulisan sebuah warung “Radja Atjeh” di daerah Skip. Serta merta saya berada di puncak kegirangan. Akhirnya kerinduan akan mie ini segera terobati. Saya mengajak suami mampir ke warung itu. suami sendiri agak aneh, karena beliau belum pernah nyicip jajanan ini seumur hidup. Saya terus mensugestinya bahwa makanan ini enak. Dan, wow! Ternyata si dia cukup berkesan. Katanya tekstur mie aceh ini unik dan rasanya pun mantap. Sangkin cocoknya di lidahnya, suatu waktu dia sendiri yang ngajak makan mie aceh ini.


Sebenarnya dari bentuk mienya tak jauh beda dengan bentuk mie lidi khas Sumatera Utara. Tapi dari segi bumbu, ia memang memiliki ciri khas. Saya sendiri tidak tahu resepnya. Yang pasti tekstur kuahnya agak kental, berminyak dan pedas. Jadi kamu yang tidak begitu suka pedas, jangan coba-coba minta nambah level kepedasannya. Karena tanpa diminta pun, mie aceh ini sudah kental dengan rasa pedasnya. Kami jadi berlangganan dengan warung Radja Atjeh ini. Selain tempatnya yang nyaman dan penjualnya yang ramah, tersedia pula wifi gratis yang bikin pelanggan betah berlama-lama.

Untuk varian sendiri Radja Atjeh menyediakan beberapa pilihan. Mulai dari mie aceh kuah polos, tumis polos hingga mie aceh telur dan seafood. Bandrol harganya juga ramah di kantong. Saya sempat panik ketika mau makan di sini, warungnya tutup. Bahkan beberapa kali kami ulangi datang ke sana, tetap saja tutup. Saya sangat kecewa. Tapi ternyata warungnya pindah ke simpang pantai. Rasa kecewa pun terhapus sudah. Tempat baru itu pun kami sambangi kembali. Hingga saya dan penjual menjadi akrab karena intensitas kunjungan kami ke sana yang cukup sering beradu dengan keramahan sang penjual. Cocok deh...

Saat menikmati mie aceh MMTC Medan, bersama duo sahabat tercinta

Sayang, kini Radja Atjeh berpindah tuan. Langganan kami telah kembali ke Aceh bersama anak dan istrinya. Untunglah dalam waktu  yang singkat, Bengkulu sudah punya beberapa warung  Mie Aceh yang bisa menggantikan tempat favorit kami sebelumnya. Seperti Pinto Aceh di KM 6,5, Warung Mie Aceh di jalan Mahakam, dan Rumah Aceh di Pintu Batu.

Tenang saja, warung-warung mie aceh ini tidak menyediakan menu tunggal kok. Ada juga varian makan lain seperti nasi goreng, bihun, aneka jus, kopi dan kerupuk. Jadi yang kurang suka dengan mie tetap bisa menikmati kuliner lain kok yang rasa dan harganya cucok marucok.

Yuk yang belum pernah nyicip, segera dicoba. Pilih saja warung terdekat dengan tempat tinggalmu. Wa bil khusus penikmat mie. Jangan bilang pecinta mie kalau belum pernah merasakan sensasi kelezatan mie aceh.
Selamat Mencoba ya.....





SHARE THIS

Author:

0 komentar:

Silahkan komentar tanpa menyinggung pihak manapun